Pecinta Durian

Durian Shinta Panen Maret Mendatang, Durian Organik yang Tidak Dijajakan di Pinggir Jalan

Durian Shinta, durian organik dari Dusun Kebonlegi, Desa Rejosari, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang ditunggu pecintanya dari Jakarta hingga Papua

Durian Shinta Panen Maret Mendatang, Durian Organik yang Tidak Dijajakan di Pinggir Jalan
istimewa
Durian Shinta, durian organik dari Dusun Kebonlegi, Desa Rejosari, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. 

TRIBUNJATENGTRAVEL.COM-Siapkan mental Anda untuk menyongsong Durian Shinta, durian organik dari Dusun Kebonlegi, Desa Rejosari, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Durian yang dikembangkan oleh Ragil Giali atau Mbah Ragil (70) mampu membuat pecintanya dari Jakarta hingga Papua rela menunggu panen. Durian tersebut akan siap panen Maret mendatang, mendekati akhir musim durian.

Durian Shinta dibudidayakan menggunakan pupuk organik, pestisida organik dan buah matang pohon.

Durian Shinta, durian organik dari Dusun Kebonlegi, Desa Rejosari, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang.
Durian Shinta, durian organik dari Dusun Kebonlegi, Desa Rejosari, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. (istimewa)

Menurut penuturan Mbah Ragil, Durian Shinta tidak menggunakan pupuk buatan. Adapun pupuk organik yang ia gunakan berasal dari pupuk kandang dari kambing. Menurutnya, pupuk kandang sudah mengandung nitrogen, fosfor, kalsium yang seimbang sesuai kebutuhan pohon durian.

Sementara untuk penyemprotan tanaman ia menggunakan pestisida nabati sehingga durian yang dihasilkan dipastikan tidak mengandung racun.

Pestisida nabati yang ia gunakan merupakan merupakan cemceman atau air rendaman tembakau dicampur brotowali, sabun hijau sedikit, dan spiritus. Penyemprotan dilakukan per tiga hari sekali.

Keunggulan lain dari Durian Shinta ialah dipetik matang pohon. Tidak ada durian yang dimatangkan, sehingga bagi para peminta durian yang tertarik mencicipi, harus memberi tahu sehari sebelumnya agar dicarikan buah yang masak. Bila pemburu durian memaksa datang mendadak, bisa zonk.

Mbah Ragil memiliki 50-60 pohon di areal seluas hampir 1 hektar. Dalam sekali panen raya, kebun Mbah Ragil dapat menghasilkan hingga 2.000 butir. Berat durian rata-rata ialah 2,5-5 kg. Durian paling besar yang pernah dipanen seberat 8-9 kilo dan lebih besar dari tabung gas LPG 3 kilogram.

Durian Shinta, durian organik dari Dusun Kebonlegi, Desa Rejosari, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang.
Durian Shinta, durian organik dari Dusun Kebonlegi, Desa Rejosari, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. (istimewa)

Adapun rasa dari Durian Shinta ialah manis-legit dengan daging buah yang tebal. Tekstur daging buah lembut namun pulen dan padat. Aromanya pun harum khas durian.

Dengan keunggulan sebagai durian organik, nikmatnya Durian Shinta dijamin tak membuat para penikmatnya mengalami keluhan kesehatan. Rasa manis yang dicicipi merupakan rasa alami.

Durian Shinta, durian organik dari Dusun Kebonlegi, Desa Rejosari, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang.
Durian Shinta, durian organik dari Dusun Kebonlegi, Desa Rejosari, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. (istimewa)

Harga Durian Shinta pada saat panen 2019 seharga Rp 35 ribu per kilogram.

Nah, tertarik menikmati Durian Shinta?

Durian Shinta tidak dijual bebas melalui warung, namun harus datang langsung ke kediaman Mbah Ragil di Dusun Kebonlegi, Desa Rejosari, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Jangan lupa buat janji terlebih dahulu dengan pemilik kebun untuk memastikan stok durian. Bisa menghubungi anak dari Mbah Ragil, yakni Shinta Ardhan di nomor telepon 085725006090.

Durian Shinta, durian organik dari Dusun Kebonlegi, Desa Rejosari, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang.
Durian Shinta, durian organik dari Dusun Kebonlegi, Desa Rejosari, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. (istimewa)
Ikuti kami di
Penulis: Amanda Rizqyana
Editor: Amanda Rizqyana
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved